Tampilkan postingan dengan label Beginilah Rumah Seorang Mukmin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beginilah Rumah Seorang Mukmin. Tampilkan semua postingan

Membina Rumah Tangga Islami

Diantara hal yang terpenting yang mempengaruhi terwujudnya kebahagian pada individu dan masyarakat adalah pembinaan keluarga yang istiqamah diatas ajaran Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah telah menjadikan rumah tangga dan keluarga sebagai tempat yang disiapkan untuk manusia merengkuh ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan sebagai anugerah terhadap hambaNya.

Untuk itulah Allah berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar-Rum [30]:21)

Dalam ayat yang mulia diatasketentraman yang dimaksudkan adalah, ketentraman dalam prilaku dan jiwa dan merealisasikan kelapangan dan ketenangan yang sempurna. Sehingga hubungan pasutri itu demikian dekat dan dalamnya seakan-akan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya,

“Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Qs. Al-Baqarah [2]:187)

Apalagi bila hubungan ini ditambah dengan pembinaan dan pendidikan anak-anak dalam naungan orang tua yang penuh dengan rasa kasih sayang. Adakah nuansa dan pemandangan yang lebih indah dari ini? Hal ini menjadi penting karena perintah Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6)

Ini semua menjadi tanggung jawab kita semua, sebab kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Dalam hadits diatas, jelaslah Allah telah menjadikan setiap orang menjadi pemimpin baik skala bangsa, umat, istri dan anak-anaknya. Setiap orang akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah. Ingatlah tanggung jawab anak dan istri adalah tanggung jawab besar disisi Allah, hal ini dengan menjaga mereka dari api neraka dan berusaha menggapai kesuksesan didunia dengan mendapatkan sakinah, mawaddah dan rahmat dan di akherat dengan masuk kedalam syurga. Inilah sesungguhnya target besar yang harus diusahakan untuk diwujudkan.

Oleh karena itu agama Islam memberikan perhatian khusus dan menetapkan kaedah dan dasar yang kokoh dalam pembentukan keluarga muslim. Islam memberikan kaedah dan tatanan utuh dan lengkap sejak dimulai dari proses pemilihan istri hingga memberikan solusi bila rumah tangga tidak dapat dipertahankan kembali.

Pembinaan keluarga ini semakin mendesak dan darurat sekali bila melihat keluarga sebagai institusi dan benteng terakhir kaum muslimin yang sangat diperhatikan para musuh. Mereka berusaha merusak benteng ini dengan aneka ragam serangan dan dengan sekuat kemampuan mereka. Memang sampai sekarang masih ada yang tetap kokoh bertahan namun sudah sangat banyak sekali yang gugur dan hancur berantakan. Demikianlah para musuh islam tetap dan senantiasa menyerang kita dan keluarga kita. Allah berfirman,

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-baqarah [2]:217)

Hal ini diperparah keadaan kaum muslimin dewasa ini yang telah memberikan perhatian terlalu besar kepada ilmu-ilmu dunia, namun lupa atau melupakan ilmu agama yang jelas lebih penting lagi. Ilmu yang menjadi benteng akhlak dan etika seorang muslim dalam hidup, dan menggunakan kemampuannya dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang ujian dan fitnah ini. Mereka lupa membina dirinya, keluarganya dan anak-anaknya dengan ajaran syari’at Islam yang telah membentuk para salaf kita terdahulu menjadi umat terbaik didunia ini.

Memang muncul satu fenomena bahwa urgensi dan tugas orang tua sekarang hampir-hampir menjadi sempit hanya sekedar mengurusi masalah pangan dan sandang saja. Ditambah lagi bapak sibuk dan ibupun tidak kalah sibuknya dalam memenuhi sandang pangan dan mencapai karier tertinggi. Akhirnya anak-anak terlantar dan tidak jelas arah pembinaan dan pendidikannya.

Padahal orang tua memiliki pengaruh besar dalam pembentukan dan pembinaan pribadi anak. Lihatlah sabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nashrani.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Karena itu diperlukan pembinaan keluarga SAMARA diatas ajaran dan bimbingan Rasululloh dan contoh para salaf sholeh terdahulu.

Mengapa Harus di Atas Ajaran Rasululloh dan Contoh Para Salaf Sholih?

Hal ini karena itu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mendidik manusia menjadi makhluk yang berakhlak mulia dan lepas dari kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” ( Qs. al-Baqarah [2]: 151)

Demikianlah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam membina dan mendidik para sahabatnya sehingga mereka lepas dari kebodohan dan kesesatan dan menjadi generasi terbaik, seperti dijelaskan Rasululloh dalam sabda beliau,

“Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku kemudian yang menyusul mereka kemudian yang menyusul mereka.” (HR al-Bukhori 5/191 dan Muslim no. 2533)

Mereka menjadi manusia terbaik dibawah pembinaan pendidik terbaik Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Mu’awiyah bin al-Hakam radhiallahu ‘anhu mengungkapkan kekagumannya terhadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang pendidik dalam ungkapan indahnya,

“Aku tidak akan melihat seorang pendidik sebelum beliau dan sesudahnya yang lebih baik dari beliau.” (HR Muslim no. 836)

Demikianlah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik yang Allah perintahkan kita untuk mencontoh dan mengikutinya dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Qs. al-Ahzab: 21). Dalam ayat lainnya, Allah memuji beliau dengan firmanNya.

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs al-Qalam[68]: 4)

Sehingga beliau menjadi standar dalam pendidikan dan kehidupan seluruh manusia, oleh karenanya Sufyaan bin ‘Uyainah al-Makki menyatakan: Sungguh Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah standar terbesar. Segala sesuatu ditimbang diatas akhlak, sirah dan petunjuk beliau. Semua yang sesuai dengannya maka itu adalah kebenaran dan yang menyelisihinya adalah kebatilan.

Beliau dengan bimbingan dan taufiq dari Allah berhasil mendidik generasi terbaik yang telah mencapai kejayaan dan kemulian diatas dunia ini dan akan mendapatkan kebahagian mendampingi Rasululloh disyurga, yaitu generasi sahabat yang merupakan pemuka-pemuka para salaf ash-Sholih.

Setelah berlalu masa yang cukup panjang dan kaum muslimin sedikit demi sedikit melupakan generasi sahabat dan ajaran-ajaran Rasululloh yang pernah direalisasikan mereka dalam semua aspek kehidupan sehari-hari, maka lambat laum kemulian dan kejayaan tersebut akhirnya hilang dengan dipenuhinya hati kaum muslimin dengan cinta dunia. Akibatnya merekapun meninggalkan jihad di jalan Alllah . Kemudian tampak pada mereka kehinaan dan kelemahan sehingga akhirnya kebidahan dan musuh-musuh mereka berhasil mencabik-cabik mereka sehingga realitanya dapat disaksikan dimasa kiwari ini.
Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengetahui garis besar singkat ketentuan pendidikan di masa salaf ash-Sholih agar kita teladani di masa kita sekarang ini. Juga agar kemulian yang telah lalu dan kejayaan yang telah hilang kembali lagi kepada kita. Sebab tidak ada jalan untuk demikian kecuali dengan kembali kepada ajaran agama yang pernah difahami dan diamalkan para salaf ash-Sholih. Kembali kepada agama kita yang hanif dan ajaran-ajarannya. Inilah yang dijelaskan Rasululloh ketika menyampaikan solusi kejayaan umat ini setelah menderita kehinaan dalam sabda beliau,

“Apabila kamu telah berjual beli dengan ‘Ienah (rekayasa riba), kalian memegangi ekor-ekor sapi, kalian ridho dengan pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan mencabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Daud dan dinilai Syeikh al-Albani sebagai hadits shohih dengan berkumpulnya jalan-jalan periwayatannya (Shohih Bi Majmu’ Thuruqihi) dalam silsilah al-Ahadits ash-Shohihah no. 11)

Kembali kepada agama dalam hadits ini dijabarkan dan dijelaskan Rasululloh dalam hadits Abu Laits al-Waaqidi yang berbunyi,

“Sesungguhnya akan terjadi fitnah. Para sahabat bertanya: Lalu bagaimana kami berbuat wahai Rasululloh? Lalu beliau mengembalikan tangannya ke permadani dan memegangnya lalu berkata: ‘Berbuatlah demikian!’

Pada satu hari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, ‘Sungguh akan terjadi fitnah.’

Namun banyak orang yang tidak mendengarnya. Maka Mu’adz bin Jabal mengatakan, ‘Tidakkah kalian mendengar perkataan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Mereka menjawab, ‘Apa sabdanya?’ Maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya akan terjadi fitnah.’ Mereka bertanya, ‘Bagaimana dengan kami wahai Rasululloh? Bagaimana kami berbuat?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kalian kembali kepada urusan kalian yang pertama.’” (HR Ath-Thobrani dan sanadnya dinilai Shohih oleh Syeikh ‘Ali Hasan dalam at-Tashfiyah wa at-Tarbiyah)

Alangkah butuhnya kita dizaman ini untuk kembali kepada ajaran Rasululloh dan pemahaman para sahabat, khususnya dalam pendidikan. Kita juga butuh untuk menjalankan dan komitmen dengan adab-adabnya dan cara mereka mengajari anak-anak mereka dan menjadikannya sebagai pedoman dan metode perilaku kita. Hal ini tidak akan terealisasi kecuali setelah kita bersandar total kepada metode al-Qur’ani dan metode Nabi dalam ilmu, belajar dan mengajar yang telah diamalkan para salaf sholih tersebut dengan menjadikannya sebagai dasar dan menerapkannya secara benar dan menyeluruh.

Bersihkah nafkah Kita?

Salah satu kewajiban suami/kepala keluarga adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Segala yang dibutuhkan keluarga menjadi tanggung jawabnya. Makanan dan minuman sehari-hari, pakaian, biaya untuk keperluan sekolah, dan lain-lainnya. Memberikan nafkah memang kewajiban yang didalamnya terdapat janji pahala bagi yang menunaikannya. Tentu saja bila diniatkan karena Alloh.

Namun hal yang juga wajib diperhatikan adalah apakah nafkah yang kita berikan tersebut sudah halal? Sebab Alloh tidak menerima kecuali segala sesuatu yang baik dan halal. Kehalalan, harus menjadi prioritas dalam mencari rezeki. Jangan sampai makanan yang masuk dalam tubuh kita sekeluarga berasal dari rezeki yang haram. Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa setiap daging yang diberi makan dari yang haram tempatnya adalah di neraka, naudzubillah…

Jadi berhati-hatilah dalam mencari nafkah, jangan sampai terkontaminasi kehalalannya dengan sesuatu yang menyababkan keharaman. Apalagi di zaman sekarang, disaat halal dan haram tak lagi dipedulikan, sebagaimana sabda Rasululloh,

“Akan tiba suatu zaman dimana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhori)

Harus kita sadari bahwa segala sesuatu yang haram itu akan berpengaruh pada diri dan keluarga kita. Di antaranya berarti menghalangi doa mereka untuk dikabulkan oleh Alloh. Disamping itu, makan makanan yang haram merupakan sebab seseorang meninggalkan kewajiban-kewajiban agamanya, karena jasmaninya telah disuapi dengan sesuatu yang jelek. Segala suapan yang jelek itu akan berpengaruh pada dirinya.

Bukankah Rasululloh sendiri begitu berhati-hati dan menjauhkan dirinya dari sesuatu yang dikhawatirkan berasal dari perkara yang haram. Seperti yang dinukilkan oleh Abu Hurairah dari Rasululloh,

“Aku pernah menemui keluargaku. Kemudian aku dapatkan sebutir kurma jatuh di atas tempat tidurku. Akupun mengambilnya untuk kumakan. Lalu aku merasa khawatir jika kurma itu adalah kurma sedekah, maka kuletakan lagi kurma itu.”

Yang demikian itu sudah seharusnya menjadi contoh bagi setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan kebaikan keluarganya. Maka dari itu, marilah kita mulai berhati-hati dan berusaha untuk membersihkan setiap nafkah yang kita berikan kepada keluarga, agar keberkahan tidak hilang darinya.

Rumah Kasih Sayang

Kasih sayang didalam rumah salah satu perkara yang cukup penting. Bagaimana tidak? Sedangkan Alloh telah menjadikan tujuan seseorang menikah adalah untuk mendapatkan ketentraman, rasa cinta, dan kasih sayang. Alloh berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan di jadikan Nya diantaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Maka usahakanlah sifat kasih sayang ini ada dan terus ada dalam rumah kita. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda bersikap lembut kepada yang tua.

Rasululloh sendiri sangat menyayangi keluarga beliau. Aisyah mengatakan,”Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih menyerupai Rasululloh dalam hal penampilan, ketenangan, kelemahlembutan ketika berdiri dan duduk, dari pada fathimah putrid Rasululloh. Dia jika menemui nabi, maka Nabi akan berdiri menyambut, mencium dan mendudukan beliau pada tempat duduknya.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani)

Abu Hurairah berkata,

“Rasululloh pernah mencium al-hasan dan al-Husain (cucu beliau) ketika beliau bersama dengan al-Aqra’ bin Habits. Lalu al-Alqra’ berkata,’Sungguh aku memiliki sepulu anak, aku tidak pernah mencium seorangpun dari mereka.’ Maka Rasululloh memandang kepadanya dan berkata, “Siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi.” (Muttafaq ‘alaih)


Bahkan kasih sayang dalam rumah tidak hanya untuk anggota keluarga saja. Termasuk budakpun memiliki hak untuk dikasih dan disayangi.

Abu Mas’ud al-Anshari berkata,

“Aku pernah memukul budakku, lalu aku mendengar sebuah suara dibelakangku, ‘ketahuilah wahai Abu mas’ud, sungguh Alloh lebih mampu terhadapmu dari pada kamu terhadap dia.” Maka akupun menoleh, dan ternyata dia adalah Nabi. Maka aku katakana, ‘Wahai Rasululloh, dia bebas, karena wajah Alloh Ta’ala.’ Berliau bersabda,’Sungguh, jika tidak kamu lakukan, niscaya kamu akan disentuh api neraka.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan al-Albani)

Begitupula dengan binatang, kita dianjurkan untuk menyayanginya. Dikisahkan dalam shahih al-Bukhari dan Muslim, ada seorang laki-laki yang masuk surga karena memberi minum kepada anjing sedang kehausan.

Dan dalam dua kitab shahih itu pula disebutkan riwayat tentang seorang wanita yang disiksa di neraka gara-gara dia pernah mengikat seekor kucing, namun tidak diberi makan tidak pula dibiarkan mencari makanan sendiri.

Tentunya, itu semua adalah petunjuk bagi kita orang-orang yang beriman untuk memenuhi rumah kita dengan kasih sayang kepada keluarga, pembantu, bahkan kepada binatang yang kita piara, jika ada.

Rumah Penuh Tanggung Jawab

Alloh berfirman,

“Sesungguhnya Alloh menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”(QS. An-Nisa:58)

Setiap anggota rumah memiliki tanggung jawab yang harus kita tunaikan. Dengan dipenuhinya tanggung jawab masing-masing anggota keluarga, akan terciptalah keharmonisan hidup dalam rumah kita. Keharmonisan hidup dalam rumah kita. Keharmonisan yang akan menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang dan saling menghormati. Rasululloh bersabda,

“Setiap kalian memiliki tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanyai tentang tanggung jawabnya. Seorang imam (penguasa) memiliki tanggung jawab, dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang laki-laki memiliki tanggung jawab dalam keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita bertanggung jawab dalam rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pembantu memiliki tanggung jawab terhadap harta tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Muttafaq’alaih)

Dan salah satu bentuk penuaian tanggung jawab dalam keluarga adalah, setiap individu menunaikan hak dan kewajiban yang dipikulnya.

Suami menunaikan hak istri, istripun menunaikan hak suami. Anak menunaikan hak orang tua, begitu pula orang tua menunaikan kewajiban mereka yang menjadi hak anak. Dengan demikian, rumah yang dibangun ini, akan tetap tegak kokoh meskipun badai menerpa handak merobohkannya.

Seorang suami wajib menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Oleh karenanya, termasuk hak istri adalah mendapatkan bimbingan agama dari suami, baik secara langsung oleh suami ataupun melalui sarana lainnya seperti pengajian-pengajian. Suami juga sangat dituntut untuk memberikan nafkah kepada keluarganya, sehingga rumah tangga memiliki harga diri tidak meminta-minta kepada orang lain. Dan perlu kita pahami, nafkah adalah tanggungan utama seorang suami, bukan tanggungan istri. Dengan menyerahkan urusan nafkah kepada suami, kesimbangan dalam rumah tangga akan terwujud. Sebaliknya jika urusan ini diberikan kepada istri, bukan karena ketidakmampuan si suami untuk mencari nafkah, dikhawatirkan goncangan melanda ketenangan di dalam rumah.

Adapun istri, maka diapun wajib memenuhi hak-hak suaminya dengan mentaatinya dalam perkara yang buka maksiat, berwajah ceria dihadapan suami, tidak berhias untuk selain suami, membantu suaminya dalam urusan rumah tangga dan kewajiban-kewajiban lain yang harus diketahui dan dipahami seorang muslimah.

Terhadap anak, orang tau wajib membimbingnya ke arah kebaikan. Dan tidak ada kebaikan kecuali dengan bimbingan agama islam. Maka hendaknya kita mengajarkan nilai-nilai agama Islam kepada anak terlebih dahulu. Akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan lain sebagainya.

Sedangkan anak, mereka wajib berbakti kepada orang tuanya. Karena orang tua adalah sebab keberadaan mereka di dunia ini. Dan Alloh telah banyak memerintahkan kita –sebagai anak- untuk senantiasa berbakti kepada orang tua.

Rumah yang Berahlak

bDalam suatu hadits Rasululloh bersabda,

“Bertakwalah kamu bagaimanapun keadaanmu. Ikutkanlah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menghapus keburukan. Dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau mengatakan, hasan shahih)


Ketika para ulama menerangkan hadits di atas, mereka menyatakan bahwa hadits ini adalah wasiat agung yang mencangkup hak Alloh dan hak hamba-hambaNya. Karena hak Alloh atas hamba-hambaNya adalah ketakwaan mereka kepada Alloh dengan sebenar-benarnya takwa, sedangkan hak hamba-hambaNya adalah dipergauli dengan ahlak yang baik.

Selain ketakwaan yang hendaknya diwujudkan didalam rumah, pergaulan yang baik antara sesame anggota rumahpun tidak kalah pentingnya. Dengan pergaulan yang baik, niscaya kita akan mendapati ketenangan, ketentraman dan rasa betah ketika tinggal di rumah. Berbeda dengan rumah yang dipenuhi dengan persengketaan dan pertengkaran antara anggota keluarga, menjadikan penghuninya akan merasa gerah dan bosan ketika tinggal di rumah, meski di sana terdapat berbagai kemewahan duniawi.

Alloh berfirman memerintahkan para suami untuk bergaul dengan istrinya secara baik,

“Dan bergaulah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’:19)

Tidak hanya pergaulan intern rumah, pergaulan kita dengan rumah sebelah dan sekitarnya juga tidak boleh diabaikan. Rasululloh bersabda,

“Demi Alloh tidak beriman, demi Alloh tidak beriman, demi Alloh tidak beriman.” Ada yang bertanya,’Siapa, wahai rasululloh?’ Beliau bersabda,”Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dengan ahlak mulia ini, seisi rumah akan merasa nyaman, tenang, saling menghormati. Bahkan orang lainpun akan merasa nyaman dengan rumah kita. Tetangga kita yang sering bersinggungan dengan kita, atau tamu yang berkunjung akan merasa juga buah dari ahlak yang mulia ini. Iya, karena Rasululloh telah bersabda,
“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, janganlah dia mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaih)

Ahlak yang mulia ini sangat erat kaitannya dengan keimanan seseorang. Semakin kuat iman seseorang , semakin terpancarlah pada ahlaknya yang mulia,

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik ahlaknya di antara mereka.” (Riwayat at-Tirmidzi dan beliau berkata, hadits hasan shahih)




Rumah yang Bertakwa

Pertama sekali yang harus diwujudkan dalam rumah seorang mukmin adalah ketakwaan. Karena dengan mewujudkannya dalam rumah kita, berarti kita telah mensyukuri nikmat-Nya yang agung.

Untuk mewujudkan ketakwaan dalam rumah , tidak bisa tidak kita harus mewujudkannya pada setiap individu anggota keluarga. Dan ini bisa dimulai dari bagaimana seorang calon kepala keluarga memilih calon pendampingnya, memilih yang shalih di antara berbagai calon yang ada. Dengan adanya pasangan suami istri yang shalihah ini, diharapkan akan muncul generasi-generasi takwa selanjutnya.

Namun jika kita sudah terlanjur tidak memperhatikan agama dan keshalihan ketika memilih pasangan, bukan berarti tidak ada jalan untuk mewujudkan ketakwaan dalam rumah. Selama nafas ini masih berhembus, Alloh masih membuka pintu-pintu kebaikan, bagi siapa yang sungguh-sungguh berusaha dan bertawakal kepada-Nya.

Maka, mulailah dari diri kita, karena setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Alloh tentang dirinya. Kemudian didiklah dan bimbinglah orang-orang terdekat dalam keluarga kita agar mau bersama-sama bertakwa kepada Alloh.

Dan jangan lupa, anak-anaka kita adalah penghuni rumah kita, dan mereka adalah lading kebaikan bagi kita, maka didiklah agama mereka dengan benar.

Hakikat ketakwaan adalah penjagaan diri ini agar terhindar dari siksaan Alloh, dengan cara tunduk, patuh dan taat melaksanakan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.

Ketakwaan itu bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkat ketakwaan seseorang, dia akan mendapat kemuliaan di sisi Alloh. Alloh berfirman,

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat:13)


Maka rumah terbaik dan termulia di sisi Aloh adalah rumah yang penuh dengan ketakwaan kepada Nya, bukanrumah yang tampak megah dari sisi lahiriyahnya, namun kosong dari ketakwaan kepada Alloh.

Tegakkan tauhid

Tegakkanlah tauhid di rumah kita, hilangkan segala bentuk kesyirikan yang ada di dalam rumah, seperti jimat-jimat, sesajen atau bentuk kesyirikan yang lain. Menegakkan tauhid dan menghilangkan syirik adalah ketakwaan terbesar kepada Alloh. Karena dua hal inilah yang akan menentukan baik buruknya, diterima atau ditolaknya amalan ketakwaan yang lain. Jika seseorang bertauhid , maka ini menjadi pondasi dasar untuk membangun ketaatan. Jika seorang berbuat syirik, maka ini bisa menghancurkan bangunan ketaatan yang kita buat. Alloh berfirman,

“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-An’am:88)

Ittiba’ , Jauhi Bid’ah

Selanjutnya yang terpenting diantara ketakwaan adalah, mengikuti tuntunan Rasululloh Shalallohu ‘alaihi Wassalam dan menjauhi perkara baru yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Karena amalan bid’ah meskipun secara lahir tampak sebagai bentuk ibadah dan kebaikan, namun pada hakikatnya adalah keburukan semata.

Karena rasululloh telah menjelaskan bahwa amalan bid’ah ini tertolak meski dianggap baik oleh manusia. Beliau bersabda,

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

Kerjakan yang Wajib, kemudian Sunnah
Selanjutnya, perkara-perkara yang wajib kita tunaikan di rumah, kemudian perkara yang sunnah (disukai, mustahab, nafilah). Semuanya kita tunaikan sesuai dengan prioritasnya masing-masing, mendahulukan yang paling utama dan paling penting dari perkara yang penting lainnya.

Diantara contoh bentuk ketakwaan yang bisa kita jalankan dalam rumah kita sebagaimana dituntunkan oleh Nabi kita, senantiasa berdoa ketika masuk atau keluar rumah, memperbanyak dzikir dan bacaan al-Qur’an, menghidupkan malam dengan sholat. Rasululloh bersabda,

“Pemisalan rumah yang disebut-sebut nama Alloh padanya dengan rumah yang tidak disebut nama Alloh padanya, seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.”(HR. Muslim)


Rasululloh bersabda,

“Jika seseorang masuk rumahnya, lalu dia berdzikir kepada Alloh ketika masuknya dan ketika makannya, setan akan berkata, ‘tidak ada tempat bermalam dan makan malam bagi kalian (para setan).’ Dan jika dia masuk tanpa berdzikir kepada Alloh ketika masuknya, setan akan berkata,’Kalian (para setan) mendapat tempat bermalam.’ Dan jika dia tidak berdzikir kepada Alloh ketika makannya, setan berkata, ‘Kalian mendapat tempat bermalam dan makan malam.”(HR. Muslim)


Rasululloh bersabda,

“Jangan kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan akan kabur dari rumah yang dibacakan surat al-Baqoroh di dalamnya.” (HR. Muslim)

Beliau Shalallohu ‘alaihi wassalam juga bersabda,

“Semoga Alloh merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, lalu sholat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan , maka dia percikkan air pada wajahnya. Semoga Alloh merahmati seorang wanita yang bangun malam, lalu sholat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, maka dia percikkan air pada wajahnya.” (HR. Dawud dengan sanad yang shahih)

Lihatlah petunjuka Rasululloh di atas dengan pandangan iman yang ada dalam hati ini, niscaya kita akan mendapati adanya keindahan, ketenangan dan ketentraman di dalam rumah yang ditegakkan tuntunan tersebut.

Dan termasuk bentuk ketakwaan dalam rumah, meniadakan bentuk penyimpangan yang mungkin terjadi di dalam rumah, seperti adanya anjing, gambar mahluk bernyawa, minuman keras, musik, perzinahan dan berbagai kemungkaran lainnya.




Rumah Dalam pandangan Islam

Betapa besar kedudukan rumah dalam kehidupan manusia menurut pandangan islam. Bagi kita, rumah yang bisa bisa ditempati seorang mukmin adalah salah satu nikmat agung yang Alloh anugerahkan kepada kita. Alloh berfirman :

“Dan Alloh menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)-nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikanNya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai )sampai waktu (tertentu).” (QS.An-Nahl: 80)

Di dalam rumah tinggal kita bisa beristirahat, mendapatkan ketentraman jiwa dan batin, kasih sayang dan kenyamanan. Suatu kenikmatan yang sering tidak disadari kecuali oleh orang yang kehilangan tempat tinggalnya. Betapa merana orang yang tinggal di kolong jembatan, diemperan toko bahkan di penjara. Sungguh tempat tinggal adalah nikmat yang sangat besar, meski barangkali kita miliki hanya dengan menyewa.

Selain itu, rumah seorang mukmin adalah titik awal dari kebaikan masyarakat. Pembinaan pertama dalam setiap masyarakat dimulai dari pembinaan individu, karena masyarakat adalah kumpulan dari berbagai individu. Oleh karenanya, islam sangat memperhatikan pembinaan keluarga di dalam rumah. Alloh berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.At-Tahrim:6)

Dari sini kita bisa tahu besarnya tanggung jawab kita di dalam rumah. Mensyukuri nikmat Alloh yang besar itu, juga menjadikan rumah kita sebagai tempat pembinaan yang baik bagi individu masyarakat. Dengan memenuhi dan melaksanakan tanggung jawab yang besar ini, terwujudlah rumah ideal yang diidam-idamkan, “rumahku surgaku,” insyaalloh.

Rumahku, Surgaku

"Rumahku adalah surgaku", suatu kalimat yang mungkin pernah mampir di telinga kita. Iya, kalimat itu menggambarkan betapa indah dan tentramnya rumah tinggal yang dimaksud, meski sesungguhnya tiada bandingan antara surga dengan dunia beserta isinya.

Jika diebut kalimat itu, terkadang hati setiap keluarga teringat dan tergugah bahwa mereka pasti menghendaki terwujudnya rumah yang tentram, nyaman, indah, menyenagkan dan membahagiakan dalam kehidupannya. Mereka bertanya-tanya, sudahkah hal itu terwujud dalam rumahku? Mungkinkah terwujud? Atau, bagaimana mewujudkannya?

Bagi sebagian orang, ketika disebut kalimat itu mungkin gambaran yang ada pada benaknya adalah rumah mewah yang dipenuhi dengan perabot mewah, kendaraan mewah yang berbilang, segala kebutuhan duniawi bisa terpenuhi, dan gambaran-gambaran lain yang mengarah kepada terpenuhinya kebutuhan duniawi manusia.


Namun bagi kaum muslimin yang beriman, bisakah mereka membenarkan pandangan ideal “rumahku surgaku” dengan gambaran seperti di atas? Jika pandangan itu benar, tentu yang bisa meraihnya hanyalah orang-orang yang memiliki kekayaan, dan mustahil bagi orang yang berada di bawah.

Islam sebagai agama yang sempurna lagi pas dan cocok bagi seluruh kalangan manusi tidak akan menempatkan timbangan kebaikan, keindahan, ketentraman, dan kebahagian pada perkara yang tidak mungkin digapai seluruh manusia. Sehingga pandangan Islam dalam memaknai kalimat “rumahku surgaku” tidak sebagaimana yang digambarkan diatas.

Nah, dalam kesempatan kali ini ingin mengajak pembaca untuk melihat bagaimana sesungguhnya rumah ideal bagi seorang mukmin, yang darinya akan terpancar ketentraman, ketenangan , kebahagiaan, kasih sayang, dan keindahan, sehingga pantaslah dikatakan “rumahku adalah surgaku”.



video-entry

#

Info Dakwah Sunnah

GEMA-ILMU::Toko Buku Islam Murah Diskon:Nggak Sekedar Toko Buku

Majalah Al-Furqon

Buku

Buku

Buku

TOKO KAMI SPACE IKLAN

Tukaran Banner

logo rumahkami