Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Cinta Dunia

Oleh: Abu Mas’ud alAtsari

Cinta adalah pokok seluruh amalan. Tidaklah seseorang mengerjakan sesuatu melainkan demi meraih apa yang ia cintai, apakah itu sesuatu yang membawa manfaat baginya atau sesuatu yang bisa menangkal madhorot (bahaya) yang akan menimpanya. Dengan cinta seseorang bisa mencapai kebahagiaan. Dengan cinta pula seseorang akan terjerumus ke dalam lembah kenistaan. Surga yang penuh kenikmatan bisa diraih dengan cinta. Begitu pula neraka yang penuh dengan kesengsaraan, orang bisa masuk ke dalamnya disebabkan cinta pula. Lantas bagaimanakah jika seseorang lebih mencintai urusan dunia daripada hal-hal yang bisa mengantarkan pada kebahagiaan akhirat yang abadi?

Indahnya Dunia Menurut Pandangan Islam
“Dunia” bila dilihat dari asal katanya berarti sesuatu yang rendah. Al Qur‘ an sendiri mengatakan di banyak ayatnya bahwa dunia itu hanyalah senda gurau dan permainan. Ia merupakan kehidupan yang fana dan pasti akan berakhir. Alloh berfirman:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan mainmain, dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Q.S. alAnkabut [29]: 64)

Pada suatu ketika, Rosululloh melewati sebuah pasar yang di dalamnya terdapat seekor bangkai kambing yang telinganya putus lantas beliau menawarkannya kepada para sahabatnya dengan harga satu dirham.

Akan tetapi, para sahabat tidak mau. Kemudian beliau menawarkan secara cuma-cuma (gratis). Lagi-lagi, para sahabat menolaknya seraya berkata:

“Demi Alloh, kalau seandainya kambing ini masih hidup maka ia ada cacatnya
karena telinganya tersebut, lalu bagaimana jika ia sudah menjadi bangkai dan dalam keadaan seperti itu?” Maka dengan bijak Rosululloh memberi pengarahan kepada para sahabatnya dengan mengatakan: “Demi Alloh, sungguh dunia ini lebih hina daripada seekor kambing ini.” (H.R. Muslim: 2957)

Walaupun demikian, bukan berarti kita harus meninggalkannya seperti yang dilakukan orang-orang sufi. Akan tetapi, kita memanfaatkan dunia sekadarnya saja karena dunia ini diciptakan oleh Alloh hanyalah sebagai sarana untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak.

Cinta Dunia Adalah Tabiat Manusia
Di antara sifat manusia yang merupakan bawaan sejak lahir adalah cinta akan bapak, ibu, suami, istri, anak, harta yang melimpah, nyaman dan mewahnya kendaraan, banyaknya binatang ternak, dan suksesnya perniagaan. Hal ini bisa jadi lumrah lantaran itu semua memang salah satu tabiat manusia sebagaimana firman Alloh :

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anakanak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allohlah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S. Ali Imron [3]: 14)

“Cinta bawaan” ini akan membuahkan kebahagiaan yang berlipat ganda bila pemiliknya tidak mencurahkan semua benih-benih cinta tersebut dalam hatinya hanya melulu kepadanya. Namun, ia mencintainya sekadar sebagai sarana untuk menggapai keridhoan Robbul’alamin (Alloh) dengan menunaikan segala kewajibanNya serta meninggalkan semua hal-hal yang membuat Dia murka.

CiriCiri Pencinta Dunia
Sebenarnya banyak ciri-ciri orang yang lebih mencintai dunia daripada akhirat. Akan tetapi hanya kami sebutkan beberapa saja:

1. Seseorang yang mencintai sesuatu tentu akan senang dan akan menyebut-nyebut sesuatu yang ia cintai dan sangat senang bercengkerama dengannya. Ia akan merasa damai dan tenteram bila berada di sampingnya. Bila berjauhan ia akan merasa terus merindukannya dan ingin selalu berjumpa dengannya. Bila berpisah dengannya akan terasa sangat berat baginya.

2. Orang yang cinta kepada sesuatu pastilah lebih mengutamakan apa yang dicintainya daripada yang lain. Demi mendapatkan apa yang ia cintai, ia rela mengorbankan harta, waktu, dan bahkan nyawa. Ini terbukti dengan makin banyaknya aturan-aturan Islam yang ia tinggalkan karena tergoda dengan gemerlapnya dunia yang telah menipunya. Maka siapa saja yang merasa pada dirinya ada sifat-sifat ini ketika menghadapi kenikmatan dunia maka ia termasuk orang yang cinta dunia secara tidak proporsional (menempatkan pada tempatnya) bahkan berlebih-lebihan.

Akibat Cinta Dunia yang Berlebihan
Cinta dunia bila diletakkan pada tempatnya tidak akan mengakibatkan kesengsaraan yang berkepanjangan. Akan tetapi, jika melebihi cintanya kepada Alloh maka akan berakibat sangat buruk, di antaranya:

1. Harga dirinya akan hina di hadapan para musuhnya sehingga laksana makanan dalam piring yang siap untuk disantap. Sebagaimana sabda Rosululloh yang artinya: “Hampir saja umat-umat (kafir) mengerumuni kalian sebagaimana mereka mengerumuni makanan di sebuah piring.” Salah seorang di antara mereka bertanya: “Apakah jumlah kita pada waktu itu sangat sedikit?” Rosululloh menjawab: “Kalian pada waktu itu sangat banyak jumlahnya tetapi seperti buih yang ada di lautan. Alloh akan menghilangkan rasa takut dari musuh-musuh kalian dan memberikan alwahn pada hati-hati kalian.” Lantas ada yang bertanya: “Apakah alwahn itu wahai Rosululloh?” Rosulullloh menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (H.R. Abu Dawud: 4297 dan dishohihkan Syaikh alAlbani dalam ashShohihah: 2/684)

2. Sebagai sebab yang bisa mengundang datangnya siksa Alloh. (Q.S. atTaubah [9]: 24)

3. Yang lebih parah lagi, ketika di akhirat ia akan menempati neraka yang
telah disediakan oleh Alloh, berdasarkan firman Alloh :

Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (Q.S. anNazi’at [79]: 3739)

KiatKiat Agar Selamat dari Cinta Dunia
1. Sadarilah bahwa kenikmatan dunia itu hanyalah bersifat sementara sedangkan kenikmatan akhirat itu bersifat kekal nan abadi. (Q.S. alMukmin [40]: 39)

2. Cermatilah kehidupan orang-orang terdahulu. Bandingkanlah pencinta dunia—seperti Qorun, Haman, Fir’aun, dll.—dengan pencinta negeri akhirat—seperti para nabi dan rosul, sahabat Rosululloh, dll.— dan lihatlah apa yang mereka peroleh dari perbuatan mereka.

3. Do’a merupakan senjata bagi seorang muslim. Oleh karena itu, berdo’alah
kepada Alloh supaya Dia tidak menjadikan dunia ini sebagai cita-cita (tujuan) terbesar hidup kita.

4. Lihatlah orang-orang yang lebih rendah daripada engkau (dari segi ekonomi) dan jangan melihat kepada orang-orang yang di atasmu, karena hal itu bisa menambah untuk bisa bersyukur kepada Alloh dan tidak berambisi terhadap kenikmatan dunia.

Akhirnya, semoga Alloh mengampuni kekurangan dan kesalahan yang ada di dalamnya dan semoga Alloh membukakan hati saudara-saudara kita yang sedang dimabuk cinta dunia hingga melalaikan tugasnya sebagai hamba Alloh yang wajib beribadah hanya kepadaNya saja. Dan semoga Alloh menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjadikan dunia ini sebatas sarana dan bukan tujuan utama hidup. Aamiin. Allohu A’lam bishshowab.


Tawakal Kepada Alloh

TAWAKAL adalah bekal yang sangat diperlukan setiap insan yang beriman karena hidup di dunia ini tidak selamanya akan berjalan mulus dan menyenangkan. Di sana pasti ada kerikil-kerikil cobaan yang harus dilalui karena kehidupan di dunia ini bukanlah akhir episode perjalanan anak Adam. Kita semua tentu sudah memahami hal ini. Namun, apakah dengan adanya berbagai macam kesulitan hidup itu berarti kita harus pasrah, pesimis, apatis, dan tanpa usaha? Tentu tidak, kita harus tetap berusaha memperbaiki nasib dan keadaan. Hanya, harus dengan cara yang dibenarkan oleh syari’at, yaitu berbekal sabar dan tawakal kepada Alloh , niscaya Alloh akan memberikan jalan keluar yang lebih mudah. Allohul Musta’an.

Pengertian Tawakal
Tawakal artinya bergantung dan bersandar pada sesuatu. Ibnul Atsir berkata: “Tawakal artinya menyerahkan urusan kepada pihak lain atau menggantungkan kepadanya. Hal ini disebabkan karena percaya penuh kepada yang diserahi atau ketidakmampuan menangani sendiri.” (an- Nihayah Fi Ghoribil Hadits: 5/221)


Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan
kepada Alloh dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi disertai percaya penuh kepada Alloh dan menempuh sebab yang diizinkan syari’at.” (al-Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid kar. Ibnu Utsaimin: 2/185)

Hakikat dan Pentingnya Tawakal
Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Alloh guna memperoleh maslahat (kebaikan) dan menolak madhorot (bahaya) dari urusan-urusan dunia dan akhirat. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam: 567, hadits no. 49)

Imam Ibnul Qoyyim (al-Fawa’id: 94) berkata: “Rahasia tawakal dan hakikatnya adalah bersandar dan bergantungnya hati kepada kepada Alloh semata. Tidaklah tercela mengambil sebab dengan tetap menjaga hati dari ketergantungan terhadap sebab tersebut sebagaimana tidak berartinya orang yang berkata ‘Saya tawakal kepada Alloh’ tetapi ia bersandar dan berkeyakinan kepada selain-Nya. Maka tawakalnya lisan lain dengan tawakalnya hati. Oleh karena itu, ucapan seseorang ‘Saya bertawakal kepada Alloh’ tetapi ia masih bersandar dan bergantung kepada selain Alloh tidaklah bermanfaat sedikit pun sebagaimana orang yang berkata ‘Saya bertaubat kepada Alloh’ sedangkan ia terus berkubang dengan kemaksiatan.”

Tawakal itu merupakan asas dari seluruh keimanan dan kebaikan. Asas dari seluruh amalan Islam. Pentingnya tawakal ini ibarat sebuah jasad dengan kepalanya. Sebagaimana kepala tidak akan tegak kecuali dengan badan, demikianlah pula keimanan, kedudukan, dan amalannya tidak akan tegak kecuali dengan tawakal. (Lihat Fathul Majid: 426)

Dalil Tentang Perintah Tawakal
Alloh telah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar bertawakal semata-mata hanya kepada-Nya. Hal itu dapat kita jumpai dalam banyak ayat-ayat-Nya. Di antaranya adalah firman Alloh :

... dan tawakal-lah kepada Alloh. Cukuplah Alloh menjadi Pelindung. (QS. an-Nisa’ [4]: 81)

Rosululloh bersabda: “Akan masuk surga dari umatku 70.000 orang tanpa dihisab ... mereka adalah orang-orang yang tidak minta ruqyah, tidak menyandarkan kesialan kepada burung dan sejenisnya, tidak berobat dengan
besi panas, dan mereka bertawakal hanya kepada Robb (Tuhan) mereka.” (HR. al-Bukhori: 5378 dan Muslim: 218)

Pengaruh Tawakal Terhadap Keimanan
Tawakal adalah suatu ibadah yang sangat agung. Maka sudah semestinya seorang hamba bertawakal hanya kepada Alloh semata. Barang siapa yang bertawakal kepada selain Alloh maka sungguh dia telah berbuat syirik, merugi di dunia dan akhirat.

Tawakal itu sangat erat kaitannya dengan keimanan seorang hamba. Tidaklah seorang hamba itu dikatakan beriman kecuali apabila ia telah mewujudkan tawakal dalam usaha atau amalan yang ia lakukan. Alloh berfirman:

.... Dan hanya kepada Alloh hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benarbenar orang yang beriman. (QS. al-Ma’idah [5]: 23)

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Dalam ayat ini Alloh menjadikan tawakal kepada diri-Nya sebagai syarat keimanan. Maka indikasi lenyapnya keimanan, ketika tidak adanya tawakal.”

Makin kuat tawakal seorang hamba kepada Alloh makin kuat pula keimanannya. Alloh berfirman:

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Alloh, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” (QS. Yunus [10]: 84)

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Dalam ayat ini Alloh menegaskan benarnya Islam seorang hamba dengan tawakal. Makin kuat tawakal seorang hamba makin kuat pula imannya. Demikian juga sebaliknya, apabila lemah imannya lemah pula tawakalnya. Apabila tawakalnya lemah, indikasi (tanda) lemahnya keimanan sudah merupakan keharusan.” (Fathul Majid kar. Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh: 2/588)

Balasan Bagi yang Bertawakal Kepada Alloh
Alloh berfirman:
.... Dan barang siapa yang bertawakal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.... (QS. ath-Tholaq [65]: 3)

Dalam ayat ini Alloh menjamin akan memberi kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal termasuk rezeki.
Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin : “Ayat ini memberi faidah bahwa orang yang bertawakal kepada selain Alloh dia adalah orang yang hina. Karena selain Alloh tidaklah mampu memberi kecukupan. Barang siapa bertawakal kepada selain Alloh, Alloh akan berlepas diri dan membuatnya tergantung kepada selain-Nya. Dia tidak mendapat yang diinginkan, makin jauh dari Alloh sesuai ketergantungannya kepada selain Alloh tersebut.” (al-Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid: 2/196)

Tawakal Tidak Menafikan Ikhtiar (Usaha)
Terkadang kita jumpai adanya suatu sangkaan dan anggapan dari sebagian orang bahwa tawakal itu identik dengan pasrah secara total, tanpa adanya usaha atau ikhtiar sedikitpun. Ini sungguh sangat keliru. Yang benar, tawakalnya seorang hamba kepada Robbnya itu tidak menafikan (meniadakan) untuk mengambil sebab-sebab syar’i yang dibolehkan. Bahkan hal itu termasuk perkara yang dianjurkan dalam agama Islam yang mulia ini. Misalnya saja: seorang yang ingin terpenuhi kebutuhannya maka ia harus bekerja, bukannya bermalas-malasan dan tidak melakukan suatu usaha atau upaya lantas tiba-tiba memperoleh rezeki dari langit. Sama halnya dengan orang yang ingin punya anak, maka ia harus menikah dan mengumpuli istrinya, bukannya sekadar berkeinginan dan berangan-angan. Jadi tidak mungkin Alloh memberi rezeki kepada seseorang tanpa upaya sedikit pun. Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Umat ini telah bersepakat bahwasanya tawakal tidak menafikan untuk mengambil sebab (ikhtiar). Maka tidaklah sah tawakal kecuali dengan mengambil sebab-sebabnya. Jika tidak demikian maka tawakalnya rusak dan sia-sia.” (Madarijus Salikin: 2/121)

Dahulu Rosululloh pernah ditanya oleh seseorang: “Wahai Rosululloh , aku ikat unta ini dan aku bertawakal atau aku lepas dan aku bertawakal? Jawab beliau: “Ikat lalu bertawakallah!” (HR. at-Tirmidzi: 2517, Ibnu Hibban: 731, dihasankan Syaikh al-Albani dalam Takhrij Musykilatul Faqr no. 22).

Dan dalam hadits yang lain yang bersumber dari sahabat Umar bin Khoththob, Rosululloh bersabda: “Andaikan kalian tawakal kepada Alloh dengan sebenarnya niscaya Alloh akan memberi rezeki kepada kalian seperti
memberi rezeki kepada burung. Mereka pergi pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang pada sore hari dengan perut kenyang.” (HR. at-Tirmidzi: 2344, Ibnu Majah: 4164, dishohihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahadits ash-Shohihah: 310)

Tawakal burung pada hadits di atas adalah dengan pergi mencari makanan, maka Alloh jamin dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung- burung itu tidak tidur saja di sarang sambil menunggu makanan datang tetapi pergi jauh mencari makanan untuk dirinya dan anak-anaknya. Begitu pula seharusnya manusia, apalagi dia diberi kelebihan yang banyak dibanding dengan seekor burung.

jika kita tawakal kepada Alloh dengan benar, engkau harus melakukan sebab yang disyari’atkan-Nya bagimu yaitu mencari rezeki secara halal, bisa dengan bertani, berdagang, menjadi pekerja pada pekerjaan apa saja yang dapat mendatangkan rezeki. Carilah rezeki dengan bergantung kepada Alloh niscaya Alloh akan memudahkan rezeki bagimu. (Lihat Syarhu Riyadhish Sholihin: 2/520)

Rosululloh, orang yang paling bertaqwa, takut, dan paling tawakal kepada Alloh juga melakukan usaha. Ketika bepergian beliau membawa perbekalan, ketika Perang Uhud beliau memakai dua baju besi dan ketika hijrah ke Madinah pun beliau menyewa penunjuk jalan. Beliau tidak mengatakan: “Aku akan hijrah dan aku tawakal kepada Alloh, tidak perlu menyewa penunjuk jalan.”

video-entry

#

Info Dakwah Sunnah

GEMA-ILMU::Toko Buku Islam Murah Diskon:Nggak Sekedar Toko Buku

Majalah Al-Furqon

Buku

Buku

Buku

TOKO KAMI SPACE IKLAN

Tukaran Banner

logo rumahkami