Oleh: Abu Muslim Ahmadi ar-Ramadhani
Tetangga adalah orang pertama yang akan memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu yang menimpa kita. Untuk itu disinilah pentingnya kita hidup rukun bertetangga.
Seorang Muslim meyakini bahwa tetangga memiliki hak-hak dan adab yang harus ditunaikan oleh muslim lainnya.
Tetangga itu ada tiga macam, ada yang hanya mempunyai satu hak, ada yang mempunyai dua hak, dan ada yang mempunyai tiga hak. Adapun tetangga yang mempunyai tiga hak ialah tetangga Muslim yang serahim. Dia mempunyai hak sebagai tetangga, sebagai Muslim dan sebagai saudara serahim. Adapun yang mempunyai dua hak ialah tetangga Muslim yang tidak serahim, dia mempunyai hak tetangga dan seiman. Sedang yang hanya mempunyai satu hak ialah tetangga yang musyrik, juga yang kafir," demikian menurut pendapat para ulama. (lihat Alsukukul ijtima'i fil Islam).
Cara memuliakan tetangga ada banyak macamnya. Abu Jumrah merinci beberapa di antaranya: senantiasa ingin berbuat baik untuk mereka, menasihatinya dengan nasihat yang baik, mendoakan supaya mendapatkan hidayah Allah, dan tidak membahayakannya. Terhadap tetangga, kita juga berkewajiban untuk menahannya dari perbuatan jelek dan munkar. Kita berhak memperlihatkan Islam pada tetangga kita, menyebutkan kebaikan dan kelebihan Islam, mendorongnya dengan penuh lemah-lembut agar mereka menerima Islam.Alloh Ta'ala berfirman:
"................... Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri". (QS. An Nisa : 36)
Berbuat baik pada tetangga banyak caranya, diantaranya:
1. Tidak menyakiti dengan ucapan, atau perbuatan.
Rasululloh, memperingatkan, "Wahai wanita-wanita muslimat, jangan ada seorang tetangga wanita menghina (menganggap remeh) tetangga wanita lain meskipun sebesar ujung kuku biri-biri." (HR. Bukhari)
2. Berkata dengan tutur kata yang sopan dan menjaga bagaimana agar tetangga tidak tersinggung oleh ucapan-ucapan kita.
Rasulullah bersabda :
"Barang siapa beriman kepada Allah, dan hari Akhir, maka ia jangan menyakiti tetangganya". (Muttafaq Alaih).
3. Memberi rasa aman kepada tetangganya.
Sikap kita pada tetangga jangan sampai menimbulkan hal-hal yang membahayakan keselamatan tetangga dalam bentuk apapun.
Sahabat pernah bertanya "Siapa orang yang tidak beriman wahai Rasulullah? Beliau bersabda ; "Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya".(Muttafaq Alaih).
4. Bersikap baik dengan tetangga
Rasulullah bersabda :
"Barang siapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya". (HR Bukhori).
5. Tidak cuek dan masa bodoh terhadap permasalahan tetangga, Beliau Shalallohu 'alaihi Wasallam memberi peringatan,"Tidak beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sedang tetangga yang di sampingnya kelaparan, dan diapun mengetahuinya dan menyadarinya." (HR. Tabrani dan al-Bazzar dengan isnad hasan)
Ada seorang yang bertanya kepada Rosululloh perihal seorang wanita yang sedikit puasa (sunnah) dan sholat (sunnah)nya, bersedekah dengan sepotong keju, namun ia tidak menyakiti tetangganya. Maka Rasulullah mengatakan, "Dia berada di dalam Surga." (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan selainnya).
Adapaun orang yang berbuat jahat kepada tetangganya, maka balasannya adalah neraka dan tidak akan masuk surga.
sebagaimana kisah seorang wanita yang banyak sholat (sunnah), sedekah, dan puasa (sunnah)nya, namun menyakiti tetangganya dengan lisannya. Maka Rasulullah bersabda, "Dia berada di Neraka." (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan selainnya).
Ada baiknya kita berbuat baik pada tetangga tanpa memandang dari segi sosial dengan membantu jika kita dibutuhkan, menjenguknya jika tetangga ada yang sakit, mengucap selamat jika bahagia dan menghiburnya jika tetangga mengalami musibah.
Sikap dermawan, saling berbagi dengan tetangga dan tidak terlalu pelit, misalnya kita punya sesuatu sisihkan agar tetangga ikut merasakan.
Sabda Rasulullah Shalallohu 'alaihi Wasallam kepada Abu Dzar:
"Hai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, kemudian berikan kepada tetanggamu". (HR Bukhari)
Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, "Jangan menganggap remeh berbuat baik kepada tetangganya, meskipun hanya sedikit." Sementara itu secara lebih rinci dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain: Harus memulai memberi salam, banyak berbicara dengannya, jangan kerap bertanya mengenai keadaannya yang menyebabkan mereka bingung, menjenguk yang sakit, menyertainya jika mereka kena musibah, ikut merasakan senang jika mereka senang, memaafkan kekurangan dan kekeliruannya, tidak mengintip dan membuka rahasianya, tidak menempelkan batang kayu pada dinding rumahnya, tidak menumpahkan air di depan rumahnya, tidak menyempitkan jalan menuju rumahnya.
Hendaknya kita selalu menutup aib dan kesalahannya, dan tidak membukanya, turut memantau (membantu mengawasi) rumahnya jika mereka sedang bepergian, tidak mendengar pembicaraannya, memalingkan mata dari memandang istrinya, dan menunjukkan kepada mereka apa yang tidak mereka ketahui berkenaan dengan masalah-masalah agama.
Hak tetangga itu akan lebih besar lagi jika mereka itu seorang anak yatim, janda fakir, miskin atau orang yang sudah tua renta, terlebih bila sudah tidak ada yang mengurus lagi. Semoga kita dapat menjalankannya. Amin.
0 komentar
Posting Komentar