Pertama sekali yang harus diwujudkan dalam rumah seorang mukmin adalah ketakwaan. Karena dengan mewujudkannya dalam rumah kita, berarti kita telah mensyukuri nikmat-Nya yang agung.
Untuk mewujudkan ketakwaan dalam rumah , tidak bisa tidak kita harus mewujudkannya pada setiap individu anggota keluarga. Dan ini bisa dimulai dari bagaimana seorang calon kepala keluarga memilih calon pendampingnya, memilih yang shalih di antara berbagai calon yang ada. Dengan adanya pasangan suami istri yang shalihah ini, diharapkan akan muncul generasi-generasi takwa selanjutnya.
Namun jika kita sudah terlanjur tidak memperhatikan agama dan keshalihan ketika memilih pasangan, bukan berarti tidak ada jalan untuk mewujudkan ketakwaan dalam rumah. Selama nafas ini masih berhembus, Alloh masih membuka pintu-pintu kebaikan, bagi siapa yang sungguh-sungguh berusaha dan bertawakal kepada-Nya.
Maka, mulailah dari diri kita, karena setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Alloh tentang dirinya. Kemudian didiklah dan bimbinglah orang-orang terdekat dalam keluarga kita agar mau bersama-sama bertakwa kepada Alloh.
Dan jangan lupa, anak-anaka kita adalah penghuni rumah kita, dan mereka adalah lading kebaikan bagi kita, maka didiklah agama mereka dengan benar.
Hakikat ketakwaan adalah penjagaan diri ini agar terhindar dari siksaan Alloh, dengan cara tunduk, patuh dan taat melaksanakan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.
Ketakwaan itu bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkat ketakwaan seseorang, dia akan mendapat kemuliaan di sisi Alloh. Alloh berfirman,
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat:13)
Maka rumah terbaik dan termulia di sisi Aloh adalah rumah yang penuh dengan ketakwaan kepada Nya, bukanrumah yang tampak megah dari sisi lahiriyahnya, namun kosong dari ketakwaan kepada Alloh.
Tegakkan tauhid
Tegakkanlah tauhid di rumah kita, hilangkan segala bentuk kesyirikan yang ada di dalam rumah, seperti jimat-jimat, sesajen atau bentuk kesyirikan yang lain. Menegakkan tauhid dan menghilangkan syirik adalah ketakwaan terbesar kepada Alloh. Karena dua hal inilah yang akan menentukan baik buruknya, diterima atau ditolaknya amalan ketakwaan yang lain. Jika seseorang bertauhid , maka ini menjadi pondasi dasar untuk membangun ketaatan. Jika seorang berbuat syirik, maka ini bisa menghancurkan bangunan ketaatan yang kita buat. Alloh berfirman,
“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-An’am:88)
Ittiba’ , Jauhi Bid’ah
Selanjutnya yang terpenting diantara ketakwaan adalah, mengikuti tuntunan Rasululloh Shalallohu ‘alaihi Wassalam dan menjauhi perkara baru yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Karena amalan bid’ah meskipun secara lahir tampak sebagai bentuk ibadah dan kebaikan, namun pada hakikatnya adalah keburukan semata.
Karena rasululloh telah menjelaskan bahwa amalan bid’ah ini tertolak meski dianggap baik oleh manusia. Beliau bersabda,
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)
Kerjakan yang Wajib, kemudian Sunnah
Selanjutnya, perkara-perkara yang wajib kita tunaikan di rumah, kemudian perkara yang sunnah (disukai, mustahab, nafilah). Semuanya kita tunaikan sesuai dengan prioritasnya masing-masing, mendahulukan yang paling utama dan paling penting dari perkara yang penting lainnya.
Diantara contoh bentuk ketakwaan yang bisa kita jalankan dalam rumah kita sebagaimana dituntunkan oleh Nabi kita, senantiasa berdoa ketika masuk atau keluar rumah, memperbanyak dzikir dan bacaan al-Qur’an, menghidupkan malam dengan sholat. Rasululloh bersabda,
“Pemisalan rumah yang disebut-sebut nama Alloh padanya dengan rumah yang tidak disebut nama Alloh padanya, seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.”(HR. Muslim)
Rasululloh bersabda,
“Jika seseorang masuk rumahnya, lalu dia berdzikir kepada Alloh ketika masuknya dan ketika makannya, setan akan berkata, ‘tidak ada tempat bermalam dan makan malam bagi kalian (para setan).’ Dan jika dia masuk tanpa berdzikir kepada Alloh ketika masuknya, setan akan berkata,’Kalian (para setan) mendapat tempat bermalam.’ Dan jika dia tidak berdzikir kepada Alloh ketika makannya, setan berkata, ‘Kalian mendapat tempat bermalam dan makan malam.”(HR. Muslim)
Rasululloh bersabda,
“Jangan kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan akan kabur dari rumah yang dibacakan surat al-Baqoroh di dalamnya.” (HR. Muslim)
Beliau Shalallohu ‘alaihi wassalam juga bersabda,
“Semoga Alloh merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, lalu sholat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan , maka dia percikkan air pada wajahnya. Semoga Alloh merahmati seorang wanita yang bangun malam, lalu sholat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, maka dia percikkan air pada wajahnya.” (HR. Dawud dengan sanad yang shahih)
Lihatlah petunjuka Rasululloh di atas dengan pandangan iman yang ada dalam hati ini, niscaya kita akan mendapati adanya keindahan, ketenangan dan ketentraman di dalam rumah yang ditegakkan tuntunan tersebut.
Dan termasuk bentuk ketakwaan dalam rumah, meniadakan bentuk penyimpangan yang mungkin terjadi di dalam rumah, seperti adanya anjing, gambar mahluk bernyawa, minuman keras, musik, perzinahan dan berbagai kemungkaran lainnya.
0 komentar
Posting Komentar